Kamis, 03 Februari 2011

Mengarang Cerpen


Pindah ke Bandung   

T
Ak terasa usiaku telah menginjak sepuluh tahun. Lembaran masalalu kini hanya kenangan yang hanya dapat ku ingat dalam sekumpulan kecil memori otakku. Tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan kini hanya masalalu indah yang tersimpan rapat dalam ingatan masalaluku yang akan selalu ku kenang. Kota yang cukup besar yang merupakan ibukota dari provinsi Riau. Ya. . yang lebih tepatnya lagi kota Pekanbaru, kota yang disebut oleh seorang temanku dengan sebutan kota seribu ruko, karena saking banyaknya rumah pertokoan atau ruko yang berdiri kokoh di setiap ruas jalan raya ataupun jalan-jalan kecil lainnya. Mungkin pendapat bagi sebagian orang rumah pertokoan tersebut adalah sebuah pemandangan yang cukup tak mengenakan karena merusak pemandangan. Tapi. . bagi ku itulah cirikhas dari kota Pekanbaru kota tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan.
                 Ayahku, mempunyai seorang teman yang biasa aku dan teman-temanku panggil dengan panggilan Om Tono, Om Tono adalah orang yang sangat baik dan ramah, aku sangat menyukainya karena sifatnya tersebut. Om Tono mempunyai dua orang anak, anak pertamanya bernama Shera dan anak keduanya bernama Abi. Umur ku dan Shera tidak terpaut sangat jauh, Shera dan aku umurnya hanya berbeda tiga tahun. Sedari kecil kami selalu bermain bersama, dikarenakan pada saat aku dan Shera masih kecil rumah kami sempat bersebelahan oleh karena itu hingga kini aku masih suka bermain dengannya dan aku pun telah menganggapnya sebagai kakak ku sendiri, dan kebetulan aku pun tidak mempunyai seorang kakak karena aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara.
                 Kebetulan saat liburan akhir semester dua atau liburan kenaikan kelas aku diajak Om Tono dan keluarganya untuk berlibur ke Bandung. Tentu saja aku merasa sangat senang. Disana aku bias bertemu kakek dan nenek dari ayah ku, nenek dari ibuku, dan saudara-saudara ku yang lain, tetapi sunggu di sayangkan aku tidak dapat bertemu dengan kakek dari ibuku, karena kakek dari ibuku telah meninggal tak lama sebelum liburan kenaikan kelas, mendengar cerita dari ibuku kakekku meninggal karena mengidap penyakit dan juga karena umurnya yang sudah cukup tua.
                 Aku merengek kepada ayah dan ibu ku agar aku diizinkan untuk dapat berlibur ke Bandung bersama Om Tono dan keluarganya. Tetapi ayah dan ibuku tidak mengizinkannya sama sekali dan mereka hanya tersenyum mendengar rengekanku itu. Aku merasa sangat kecewa pada saat itu. Tak tahu alasan pastinya apa hingga aku tidak di izinkan untuk berlibur ke Bandung. Tak hanya sekali aku meminta kepada ayah dan ibuku, tetapi berkali-kali dan jawabannya masih sama saja seperti hari-hari sebelumnya yang masih tetap tidak mengizinkanku dan hanya tersenyum kepadaku. Aku merasa heran dan penasaran mengapa mereka tidak mengizinkanku sama sekali, seperti ada sesuatu hal yang mereka sembunyikan dariku tetapi aku tidak tahu sama sekali apa yang mereka sembunyikan itu.
                 Beberapa hari telah berlalu, kini tiba saatnya Om Tono dan keluarganya untuk berlibur ke Bandung, pada saat itu rengekanku untuk meluluhkan hati ayah dan ibuku untuk menizinkan ku berlibur ke Bandung semakin menjadi-jadi tetapi tetap saja aku tidak di izinkan samasekali. Pada saat itu pula ayah dan ibuku memberikan alasan mengapa aku tidak di izinkan untuk berlibur ke Bandung. Ibuku berkata sambil memberikan sebuah senyuman manis dari bibirnya “Mba kan mau di pindahin ke Bandung untuk nemenin eyangti, kasian eyangti di Bandung sendirian jadi mba ga usah liburan ke Bandung ya.” Aku pun mulai mengerti mengapa mereka tidak mengizinkanku untuk berlibur ke Bandung, bukan karena mereka tidak sayang kepada ku melainkan mereka sangat sayang kepada ku. Aku berfikir inilah liburan terakhirku di Pekanbaru. Walaupun ayah dan ibu ku telah memberikan penjelasan kepada ku tetapi tetap saja aku masih merengek walaupun rengekan ku tak seperti sebelumnya, sudah memelan.
                 Setelah hari dimana OmTono dan Keluarganya pergi untuk berlibur ke Bandung ayah dan ibu ku terus bertanya, apakah aku benar-benar telah membulatkan keinginanku untuk pindah ke Bandung, aku pun menjawab “Iya. .” Karena dalam benak ku dapat tinggal di Bandung akan sangat menyenangkan, karena dari dulu aku sangat iri dengan saudara ku yang tinggal di Bandung dan kini aku yang akan tinggal di Bandung. Pikiran ku pada saat itu masih sangat pendek, aku tidak berfikir disana aku tak dapat bertemu dengan ibu dan ayah ku juga ke dua adikku karena pada saat itu usiaku masih sepuluh tahun dan aku belum mengerti apa-apa.
                 Hari dimana aku untuk pindah ke Bandung pun tiba, aku di temani oleh ayahku diantarkan oleh ibuku pergi menuju bandara dan hari itu juga merupakan hari terakhirku untuk tinggal di Pekanbaru. Terasa perasaan campur aduk yang tak karuan antara sedih dan senang, senang karena aku akan tinggal di Bandung, dapat bertemu dengan saudara-saudaraku yang lain, memiliki sekolah baru, teman-teman baru, dan akan mendapatkan pengalaman baru, tetapi juga sedih karena aku akan meninggal kan ibu dan ayahku juga kedua adikku, sekolah yang selama tiga tahun ini telah mendidikku, teman-teman lamaku, rumahku, dan hal-hal yang selama ini baik susah maupun senang yang telahku lalui di Pekanbaru. Ya tetapi inilah pilihan yang aku ambil. Pindah ke Bandung untuk menemani nenek dari ibuku. Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta aku dan ayahku menaiki sebuah bus untuk menuju ke Stasiun Gambir lalu aku dan ayahku akan tiba di Bandung. Setelah beberapa lama perjalanan aku dan ayahku akhirnya tiba di Bandung, di Bandung aku dan ayahku di jemput di stasiun oleh keluarga dari ayahku.
                 Hari menjelang malam, terasa udara dingin yang membuat badanku merasa menggigil. Suhu kota Bandung dan kota Pekanbaru terasa sangat berbeda jauh. Aku pun menggunakan kaos kaki agar kaki ku tidak kedinginan. Walau udara terasa dingin aku merasa senang karena dapat tinggal di Bandung, namun di sisi lain dari diriku aku merasa sedih karena ibu dan ke dua adikku tidak dapat ikut ke Bandung bersama aku dan ayahku.
                 Malam itu pun aku tertidur pulas karena merasa lelah setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang. Keesokan harinya aku, ayah ku, tante dan anak tanteku pergi untuk mencari alat tulis dan perlengkapan sekolah lainnya. Aku merasa senang.
                 Beberapa hari telah aku lewati dan liburan kenaikan kelas pun telah usai. aku ditemani oleh ayah dan nenek ku di antarkan dengan menggunakan vespa tua peninggalan almarhum kakek dari ibu ku menuju sekolah baru ku SD Priangan, yang terletak di jalan Baros nomo 01. Di sekolah tersebut aku berkenalan dengan teman-teman baruku, walau terasa agak canggung ya tapi ini lah yang harus ku jalani.
                 Tiba saatnya untuk ayahku kembali ke Pekanbaru. Aku merasa amat sangat sedih karena akan di tinggalkan oleh ayahku. Pada saat subuh dimana beberapa orang masih tertidur lelap ditemani bunga-bunga tidur dan selimut yang menyelimuti mereka agar tubuh mereka tetap terjaga agar tetap hangat. Namun di saat itu pula ayahku di jemput oleh sebuah travel yang akan mengantarkannya ke bandara. Pada saat itu aku menjerit sekencang-kencangnya, tak perduli apakah ada orang yang akan merasa terganggu dengan teriakanku tersebut. Yang terlintas dam pikiranku hanya pikiran agar ayah ku tidak pergi dan tetap menemani ku di Bandung, tapi teriakanku itu tak mengubah apapun, ayah ku tetap saja pergi ke Pekanbaru.
                 Aku merasa sangat sedih, perasaanku tak karuan. Aku merasa menyesal telah mengambil pilihan untuk pindah ke Bandung. Jika waktu dapat diputar kembali ke masa lalu aku ingin aku tetap tinggal di Pekanbaru, berada dalam pelukan hangat kasih sayang dari ibu dan ayahku, namun sayangnya waktu tak dapat diputar kembali ke masa lalu. Itu semua hanya mimpi dan harapan kosong yang tak dapat terwujud. Kiniku hanya menatap jalan kosong yang sunyi dengan isakan tangis melihat travel yang ayah ku tumpangi pergi dan lenyap di telan kegelapan subuh. Lampu-lampu penerangan jalan seakan menemani laju travel yang ayahku tumpangi.
                 Kini akhirnya aku pun tak dapat berbuat apa-apa yang dapatku lakukan hanya melakukan aktifitas seperti biasanya tanpa di temani ibu, ayah dan ke dua adikku dan hanya ditemani oleh nenekku. Pada pagi harinya aku pun bersekolah walau diselimuti dengan perasaan sedih ya tapi apa yang dapat aku lakukan. Daripada aku terus-menerus bersedih dan terus terbayang-bayang oleh kejadian pada saat subuh tadi, lebih baik aku bersekolah dan di sekolah mungkin saja aku dapat melupakan apa yang telah terjadi, ya. . walaupun tidak semuanya, walau hanya sedikit sekali. Ini lebih baik daripad hanya meratapi kesedihan yang tak tahu kapan akan terobatinya dan berlarut-larut pada kejadian yang terjadi pada saat itu.
                 Baik ayah dan ibu dan ke dua adikku sesekali datang ke Bandung untuk menjenguk ku walaupun tidak sering. Tapi aku cukup merasa senang dengan kehadiran mereka di Bandung dan dapat melepaskan rasa kangenku terhadap mereka. Ketika mereka pulang kembali ke Pekanbaru aku pun selalu merasa sedih, mungkin karena aku merasa kesepian di tinggal oleh mereka di Bandung. Tapi. .  ya sudahlah.
                 Setahun kemudian baru ibu ku menyusul pindah ke Bandung bersama ke dua adikku di antarkan oleh ayahku. Ayahku tidak ikut pindah, tetapi ayahku selalu datang ke Bandung setiap sebualan sekali ataupun lebih. Tergantung pekerjaannya. Dari pengalaman ku tersebut aku mendapatkan sebuah pelajaran untuk dapat hidup mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar